sitepontianak.com – PT Pupuk Indonesia (Persero) berencana merevitalisasi sejumlah pabrik pupuk tua untuk meningkatkan efisiensi produksi dan menekan pemborosan energi. Langkah ini diharapkan mampu menekan biaya produksi agar harga pupuk tetap terjangkau bagi petani.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, mengatakan revitalisasi ini bertujuan menyesuaikan rasio konsumsi energi pabrik dengan standar efisiensi global.
“Efisiensi berarti menekan rasio konsumsi energi agar mendekati standar dunia, yaitu sekitar 24 MMBTU (Million British Thermal Units) per ton,” ujar Yehezkiel dalam kunjungannya ke Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (6/11/2025).
Saat ini, Pupuk Indonesia tengah menjalankan proyek pembaruan pada pabrik tertua milik PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) dan revitalisasi Pabrik Pusri IIIB di Palembang. Pabrik Pusri IIIB ini akan menggantikan Pusri III dan IV yang sudah tidak efisien dalam penggunaan energi.
Proyek Pusri IIIB dimulai pada Desember 2023 dan ditargetkan rampung dalam waktu 40 bulan, dengan rencana beroperasi penuh pada 2027.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, sebelumnya menyampaikan bahwa perusahaan menyiapkan dana hingga Rp 54 triliun untuk merevitalisasi pabrik-pabrik yang telah berusia lebih dari 30 tahun.
“Kami sudah lama tidak membangun pabrik baru. Untuk merevitalisasi pabrik tua memang butuh dana besar, sekitar Rp 54 triliun, tapi langkah ini penting untuk efisiensi,” jelas Rahmad pada akhir September lalu.
Ia menambahkan, delapan dari 15 pabrik urea Pupuk Indonesia telah beroperasi lebih dari tiga dekade. Dengan pembangunan pabrik baru yang lebih efisien, perusahaan diperkirakan dapat menghemat biaya produksi hingga Rp 1,5 triliun per tahun.
Efisiensi ini diharapkan mampu menurunkan biaya produksi sekaligus menjaga harga pupuk subsidi dan nonsubsidi agar tetap terjangkau bagi petani di seluruh Indonesia.

















