sitepontianak.com, Jakarta – Ketegangan geopolitik yang semakin panas di Timur Tengah kini tak lagi jadi isu luar negeri semata. Dampaknya perlahan merembes hingga ke dapur rumah tangga Indonesia. Lonjakan harga minyak global, disrupsi logistik, dan membengkaknya biaya pangan diprediksi bakal menjadi badai ekonomi berikutnya bagi masyarakat kelas menengah dan bawah.
Laporan terbaru dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, berjudul “Meredam Guncangan Ekonomi dari Gejolak Timur Tengah”, memperingatkan adanya risiko berlapis yang mengancam stabilitas ekonomi domestik. Ancaman utama datang dari potensi penutupan Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak mentah yang krusial secara global.
“Kondisi ini bisa mendorong biaya impor pangan dan logistik ke level kritis. Harga-harga akan melonjak, dan masyarakat akan terdampak langsung,” tulis laporan tersebut, yang dirilis Kamis, 3 Juli 2025.
Gandum, Kedelai, dan BBM: Kombinasi Rawan
Indonesia sangat bergantung pada impor gandum, kedelai, dan gula—tiga komoditas yang harganya mudah bergejolak di pasar global. Hampir seluruh kebutuhan gandum dan kedelai diimpor dari luar negeri. Ketika harga minyak dunia naik, biaya distribusi dan logistik dalam negeri yang masih berbasis BBM juga ikut terdorong naik.
CORE memperkirakan efeknya akan terasa dalam dua gelombang: pertama, sektor padat energi seperti transportasi, pertanian, dan perikanan akan langsung terdampak. Kedua, harga barang konsumsi akan melonjak karena pelaku usaha menyesuaikan harga jual demi menutup ongkos produksi.
“Daya beli masyarakat akan terguncang. Pola konsumsi akan bergeser ke produk-produk murah, bahkan berisiko pada penurunan asupan gizi,” ujar tim peneliti CORE.
Cermin dari Masa Lalu
Krisis serupa pernah terjadi pada 2022 akibat invasi Rusia ke Ukraina. Saat itu, harga pangan dan BBM melonjak drastis, memicu inflasi tahunan Indonesia hingga menembus 5 persen. CORE menilai, jika harga minyak global saat ini tembus USD 130 per barel, lonjakan inflasi bisa mengulang skenario serupa.
Data historis 2014–2023 menunjukkan bahwa inflasi tinggi selalu diikuti oleh penurunan konsumsi rumah tangga, terutama dalam tiga bulan pertama setelah kenaikan harga. Indeks Penjualan Riil (IPR) biasanya baru pulih setelah 18–20 bulan.
Industri dan Daerah Terpencil Ikut Tertekan
Tak hanya rumah tangga, sektor produksi juga terdampak. CORE menemukan bahwa saat inflasi tinggi, dunia usaha mengalami kontraksi tajam akibat penurunan permintaan dan kenaikan biaya bahan baku.
Kondisi ini juga akan paling terasa di daerah-daerah luar Jawa, terutama Papua dan wilayah Indonesia Timur, yang selama ini mengandalkan pasokan logistik dengan biaya tinggi dan akses energi terbatas.
“Pemerintah perlu menyiapkan kebijakan penyangga, seperti penguatan cadangan pangan, pengendalian harga BBM, dan subsidi yang lebih tepat sasaran,” tulis laporan itu.
















