banner 120x600 banner 120x600 banner 120x600 banner 120x600

Seperti Apa Ekonomi Biru yang Katanya Bisa Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja Baru?

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa usai rapat bersama Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (12/4/2023). (Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden)

sitepontianak.com – World Water Forum (WWF) ke-10 sedang diselenggarakan dari 18 hingga 25 Mei 2024 di Nusa Dua, Bali. Dalam forum air terbesar di dunia itu, ide ekonomi biru (blue economy) dimunculkan ke publik dan dikatakan dapat menjadi mesin baru untuk menciptakan jutaan lapangan pekerjaan.

Wacana ekonomi biru dimunculkan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa. Dia mengatakan penerapan ekonomi biru atau blue economy dapat menciptakan 12 juta lapangan kerja baru pada 2030 di Indonesia.

Lapangan kerja baru tersebut tersebut tercipta dari pengembangan industri yang sudah ada serta dari industri-industri baru yang akan tercipta seiring dengan implementasi dari ekonomi biru.

“Mereka (masyarakat) mendapat manfaat besar dari blue economy. Kami memahami bahwa blue economy tidak hanya diukur dari segi output ekonomi, tetapi juga dari segi manfaat sosial dan lingkungan seperti meningkatkan ketahanan pangan, menyediakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan, melestarikan biodiversity kelautan,” ujar Suharso dalam Paralel Event World Water Forum 2024 di Tanjung Benoa Nusa Dua, Bali, dikutip dari Antara pada Selasa (21/5).

Apa itu ekonomi biru

Melansir dari situs Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada, istilah ekonomi biru pertama kali dicetuskan oleh pengusaha bernama Gunter Pauli dalam bukunya ‘The Blue Economy: 10 Years, 100 innovations, 100 million jobs’.

Dalam buku tersebut, Pauli memperkenalkan konsep perekonomian jenis baru yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya laut secara efisien dan berkelanjuta

Menurutnya, lautan adalah sumber kekayaan yang belum dimanfaatkan dan dapat memecahkan banyak masalah lingkungan dan ekonomi dunia, seperti perubahan iklim, kelangkaan energi, serta kemiskinan.

Adapun model bisnis baru yang muncul karena penerapan ekonomi biru ialah model bisnis yang meniru fungsi sistem alam dan menciptakan nilai dari limbah dan produk sampingan.

Potensi sektor akuakultur, energi baru terbarukan (EBT), dan bioteknologi didorong untuk menumbuhkan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan serta inklusi sosial.

Menurut Bank Dunia, sektor ekonomi biru jika dimaksimalkan dapat bernilai besar yakni US$1,5 triliun per tahun.

Penerapan ekonomi biru di Indonesia

Indonesia sendiri sudah memiliki Blue Economy Roadmap yang digagas oleh Bappenas pada 2023 sebagai pedoman pemerintah menerapkan ekonomi biru. Roadmap ini merupakan rencana jangka panjang dari 2023 sampai 2045.

Tidak hanya berfokus pada sektor-sektor yang sudah ada seperti perikanan tangkap, budidaya, pariwisata, manufaktur berbasis komoditas laut dan pesisir, tetapi Roadmap juga melihat potensi pengembangan sumber pertumbuhan baru.

Contohnya antara lain bioteknologi, bioekonomi, EBT berbasis laut, hingga memperkuat riset dan edukasi.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam acara WWF turut mengatakan bahwa optimalisasi ekonomi biru juga memiliki beberapa potensi lain.

Pertama, dapat menyediakan 40 kali besar EBT pada 2050. Kedua, mengurangi 20 persen gas rumah kaca untuk mempertahankan suhu bumi 1,5 derajat celcius.

Ketiga, peningkatan enam kali lipat ketersediaan pangan berbasis laut pada 2050, serta Keempat, ekonomi biru memiliki potensi keuntungan US$15,5 triliun yang didapat dari investasi kelautan berkelanjutan di 2050.

Sumber: Suara.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *